Menimbang Kritik atas “Kerasnya Lisan” Syaikh al-Albani
Beberapa waktu lalu saya menemukan sebuah video pendek dari ustadz UN yang menyoroti apa yang dianggap sebagai contoh “kerasnya lisan” Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani. Ada tiga hal yang diangkat: judul salah satu kitab beliau yang membantah Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah, komentar beliau tentang Syaikh Muhammad al-Ghazali, dan judul kitab beliau yang mengkritisi Dr. Sa‘id Ramadhan al-Buthi.
Kalau ketiga contoh itu dilihat sekilas, kesan yang muncul memang cukup keras. Tetapi saya penasaran: apakah konteksnya memang sesederhana itu? Karena itu, saya mencoba menelusuri sumbernya satu per satu. Setelah melihat sumber yang lebih lengkap, ternyata ada beberapa konteks penting yang tidak tampak ketika kutipan atau judul tersebut ditampilkan sendirian.
Mari Mulai dari Judul yang Paling Dipersoalkan
Salah satu contoh yang ditampilkan adalah kitab Syaikh al-Albani:
“Menyingkap Tabir atas Kebatilan dan Tuduhan-Tuduhan Dusta yang Ada dalam Ucapan-Ucapan Abu Ghuddah.”
Sampul Kasyf an-Niqab, cetakan kedua, 1398 H / 1978 M.
Dua kata yang langsung menarik perhatian tentu الأباطيل (al-abathil) dan الافتراءات (al-iftira’at). Keduanya memang terdengar keras. Tetapi ada satu informasi penting yang menurut saya tidak boleh dilewatkan: sebelum Syaikh al-Albani menulis kitab tersebut, Syaikh Abu Ghuddah telah lebih dahulu menulis sebuah risalah berjudul:
“Beberapa Patah Kata dalam Menyingkap Kebatilan dan Tuduhan-Tuduhan Dusta.”
Dalam mukadimah Kasyf an-Niqab, Syaikh al-Albani menyebutkan bahwa risalah tersebut sampai kepada beliau kira-kira tiga tahun setelah dicetaknya laporan yang beliau nilai tidak adil, dan di akhir risalah itu tertulis selesai ditulis pada 12/4/1394 H di kota Riyadh.
Mukadimah Kasyf an-Niqab yang menyebutkan risalah Syaikh Abu Ghuddah beserta tanggal penyelesaiannya.
Nah, di sini persoalannya mulai terlihat berbeda. Dua diksi yang dipersoalkan, yaitu abathil dan iftira’at, ternyata bukan pertama kali muncul dalam judul bantahan Syaikh al-Albani. Keduanya sudah digunakan dalam judul risalah Syaikh Abu Ghuddah sendiri: Kalimat fi Kasyfi Abathil wa Iftira’at. Judul Syaikh al-Albani kemudian menggemakan dua diksi itu dalam susunan Kasyf an-Niqab ‘amma fi Kalimati Abi Ghuddah min al-Abathil wal-Iftira’at. Jadi, apabila penggunaan kata tersebut hendak dijadikan persoalan adab, standar yang sama tentu perlu diterapkan kepada kedua belah pihak.
Ada satu detail bahasa yang juga menarik. Dalam judul al-Albani, al-abathil wal-iftira’at disebut sebagai sesuatu yang terdapat dalam كلمات أبي غدة (ucapan-ucapan Abu Ghuddah). Jadi, secara redaksional, yang sedang dinilai adalah kandungan perkataannya, bukan menyerang pribadi orangnya.
Sumber: Kasyf an-Niqab — scan PDF (Archive.org)
Lalu Bagaimana dengan Ucapan tentang Syaikh Muhammad al-Ghazali?
Contoh kedua menurut saya bahkan lebih menarik, karena persoalannya bukan hanya keras atau tidak keras, tetapi apakah kalimat yang ditampilkan itu benar-benar redaksi Syaikh al-Albani sebagaimana beliau mengucapkannya. Dalam video ditampilkan kalimat berikut dan dirujuk ke Silsilah al-Huda wan-Nur kaset nomor 849:
“Muhammad al-Ghazali adalah orang yang menyimpang dari Sunnah sebagaimana para pendahulunya dari kalangan Muktazilah.”
Saya kemudian mencoba menelusuri rujukan tersebut. Ada dua hal yang menurut saya penting untuk diperhatikan:
- Bukan kutipan langsung: Kalimat ringkas tersebut tampaknya bukan susunan kalimat Syaikh al-Albani sendiri, melainkan judul yang diberikan pengelola situs untuk sebuah potongan audio berdurasi sekitar tujuh menit. Judul semacam ini lazim disusun oleh admin situs sebagai ringkasan isi, bukan sebagai transkrip harfiah.
- Konteks rekaman utuh: Rekaman utuh dari pembahasan ini sebenarnya terdapat pada kaset nomor 300, pada pertanyaan “mā ra’yukum fī ‘aqīdah ad-dā‘iyah al-masyhūr Muhammad al-Ghazālī?”. Pada kaset nomor 849 pembahasan ini tidak ditemukan.
Halaman tanya-jawab pada Silsilah al-Huda wan-Nur kaset nomor 300.
Redaksi lengkap perkataan Syaikh al-Albani adalah:
“Saya sudah mengenal al-Ghazali sebelum orang-orang ramai menyerangnya, dan bahwa ia menyimpang dari Sunnah sejak hari ia menulis mukadimah cetakan keempat kitabnya Fiqh as-Sirah. Di sana ia menyebutkan metodenya dalam bersandar pada hadis-hadis Rasul ‘alaihis salam, baik yang berkaitan dengan sirah maupun selainnya, dan dalam hal itu ia menempuh metode para pendahulunya dari kalangan Muktazilah.”
Perbedaannya cukup jauh. Dalam redaksi lengkap, Syaikh al-Albani menyebutkan objek kritiknya secara spesifik: mukadimah cetakan keempat Fiqh as-Sirah dan metode penyikapan hadis yang dipaparkan di dalamnya. Menampilkan versi ringkasnya saja menghilangkan bagian yang justru menjadi dasar argumentasi ilmiah tersebut.
Hal serupa juga perlu diperhatikan ketika melihat kitab beliau yang mengkritisi Dr. Sa‘id Ramadhan al-Buthi. Judulnya memang menggunakan diksi yang tegas. Tetapi berhenti pada judul saja belum memberi kita gambaran mengenai apa yang sebenarnya sedang dibantah, sebab isi kitab tersebut membahas poin-poin ilmiah tertentu yang menjadi objek kritik.
Apakah Judul Polemis Seperti Ini Khas Syaikh al-Albani?
Sampai di sini mungkin masih ada yang bertanya: “Baiklah, Abu Ghuddah memang menggunakan dua kata yang sama. Tetapi bukankah seorang ulama seharusnya memilih judul yang lebih santun?”
Sebelum menjadikan ketegasan judul sebagai ukuran khusus terhadap Syaikh al-Albani, ada baiknya kita melihat bagaimana kitab-kitab bantahan diberi judul dalam khazanah keilmuan Islam lintas mazhab. Ternyata, gaya polemis seperti ini bukan sesuatu yang khas pada beliau:
| No. | Nama Ulama | Wafat | Judul Kitab | Terjemahan Judul |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Utsman bin Sa‘id ad-Darimi | 280 H | نقض عثمان بن سعيد على المريسي الجهمي العنيد فيما افترى على الله في التوحيد | Bantahan Utsman bin Sa‘id terhadap al-Marisi, si Jahmi yang keras kepala, atas apa yang ia ada-adakan secara dusta terhadap Allah dalam tauhid. |
| 2 | Abu Ali al-Ahwazi | 446 H | مثالب ابن أبي بشر | Cela-cela dan aib-aib Ibn Abi Bisyr. |
| 3 | Ibn ‘Asakir | 571 H | تبيين كذب المفتري فيما نسب إلى الإمام أبي الحسن الأشعري | Menjelaskan kedustaan si pembuat tuduhan palsu tentang apa yang ia nisbatkan kepada Imam Abu al-Hasan al-Asy‘ari. |
| 4 | Taqiyuddin as-Subki | 756 H | السيف الصقيل في الرد على ابن زفيل | Pedang yang terasah dalam membantah Ibn Zafil. |
| 5 | Muhammad Bakhit al-Muthi‘i (Mufti Mesir, al-Azhar) |
1354 H | المرهفات اليمانية في عنق من قال بطلان الوقف على الذرية | Pedang-pedang Yaman yang tajam di leher orang yang menyatakan wakaf untuk keturunan itu batal. |
| 6 | Abdullah bin Shiddiq al-Ghumari (Ulama al-Azhar) |
Abad 14 H | القول المقنع في الرد على الألباني المبتدع | Pernyataan yang memuaskan dalam membantah al-Albani si ahli bidah. |
| 7 | Abdullah bin Shiddiq al-Ghumari (Ulama al-Azhar) |
Abad 14 H | إرغام المبتدع الغبي بجواز التوسل بالنبي | Menundukkan ahli bidah yang bodoh dengan menjelaskan kebolehan tawassul melalui Nabi. |
Dari daftar di atas terlihat jelas bahwa penggunaan diksi tajam dalam judul kitab polemik adalah hal yang lumrah dalam sejarah perdebatan ilmiah para ulama. Bahkan beberapa contoh langsung menyerang gelar pribadi lawannya (seperti “si bodoh” atau “si ahli bidah”).
Bandingkan dengan judul Syaikh al-Albani: Kasyf an-Niqab ‘amma fi Kalimati Abi Ghuddah min al-Abathil wal-Iftira’at. Secara struktur bahasa, kritiknya ditujukan kepada kandungan perkataan (kalimat), bukan menyematkan julukan merendahkan pada nama pribadi.
Penutup
Maksud dari tulisan ini bukan untuk membela secara membabi buta kepada Syaikh al-Albani. Beliau adalah seorang yang tidak maksum dan tentu beliau mempunyai banyak kesalahan selayaknya manusia biasa.
Yang menjadi catatan penting hanyalah dua hal:
- Keadilan standar penilaian: Apabila standar kesantunan diterapkan, sebaiknya diterapkan secara merata kepada kedua belah pihak yang berpolemik, bukan hanya ke satu orang.
- Keutuhan konteks: Sebuah kutipan atau pernyataan sebaiknya ditampilkan bersama konteks dan alasan lengkap yang menyertainya, agar tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru.
Wallahu a‘lam bish-shawab. Koreksi atas kekeliruan dalam tulisan ini sangat diharapkan.