Benarkah Syaikh Muqbil Menganggap Syaikh al-Albani Bukan Seorang Muhaddits?
Telaah atas konteks utuh perkataan Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi‘i
Beredar sebuah postingan di internet yang menyebutkan bahwa menurut Syaikh Muqbil bin Hadi, Syaikh al-Albani bukanlah seorang muhaddits, melainkan hanya seorang bāhits al-hadits (peneliti hadis), salah seorang ulama hadis kontemporer yang mu‘tabar.
Postingan yang menjadi pokok pembahasan.
Konteks asli perkataan Syaikh Muqbil
Pernyataan yang dijadikan dasar klaim tersebut berasal dari kitab al-Muqtarah fi Ajwibah Ba‘dh As’ilah al-Mushthalah (hlm. 40), dalam jawaban beliau atas persoalan: manakah yang didahulukan apabila para imam hadis terdahulu telah melemahkan suatu hadis, sedangkan sebagian ulama belakangan menilainya sahih?
Syaikh Muqbil menjawab bahwa penilaian para imam mutaqaddimin lebih didahulukan, sebab merekalah yang menguasai seluruh jalur periwayatan sebuah hadis. Sebagai pembanding, beliau menyebut Syaikh al-Albani.
al-Muqtarah fi Ajwibah Ba‘dh As’ilah al-Mushthalah, hlm. 40.
Yang perlu diperhatikan, kalimat yang dikutip itu tidak berdiri sendiri. Redaksi utuhnya adalah:
فأحسَنُ واحدٍ في هذا الزمن هو الشيخ ناصر الدين الألباني حفظه الله تعالى، فهو يُعتبر باحثًا، ولا يُعتبر حافظًا، وقد أعطاه الله من البصيرة في هذا الزمن ما لم يُعطِ غيرَه، حسبُه أن يكون الوحيدَ في هذا المجال، لكن ما بلغ مبلغ المتقدمين.
“Maka orang terbaik di zaman ini adalah Syaikh Nashiruddin al-Albani hafizhahullah ta‘ala. Beliau terhitung sebagai bāhits, dan tidak terhitung sebagai hafizh. Allah telah menganugerahkan kepadanya bashirah di zaman ini yang tidak Dia berikan kepada selainnya. Cukuplah baginya bahwa ia satu-satunya di bidang ini — hanya saja beliau belum mencapai derajat para mutaqaddimin.”
Di paragraf sebelumnya, tolok ukur yang beliau maksud disebutkan secara eksplisit:
الشيخ ناصر الدين الألباني حفظه الله تعالى ما بَلَغَ في الحديث مَبْلَغَ الإمام أحمد بن حنبل، ولا مبلغ البخاري
“Syaikh Nashiruddin al-Albani belum mencapai derajat Imam Ahmad bin Hanbal dan al-Bukhari dalam ilmu hadis.”
Maka jelas, pembahasannya adalah tarjih antara tashih ulama mutaqaddimin dan muta’akhkhirin. Ukuran yang dipakai Syaikh Muqbil adalah derajat Imam Ahmad dan al-Bukhari — bukan pertanyaan apakah al-Albani seorang ahli hadis atau bukan.
Yang dinafikan adalah hafizh, bukan muhaddits
Perlu dicatat bahwa dalam istilah para ahli hadis, hafizh adalah tingkatan yang lebih tinggi daripada muhaddits, bukan sinonimnya. Karena itu, menafikan predikat hafizh sambil tetap menetapkan predikat muhaddits bukanlah sesuatu yang bertentangan.
Menjadikan kalimat fahuwa yu‘tabar bāhitsan wa lā yu‘tabar hāfizhan sebagai bukti bahwa Syaikh Muqbil menafikan status muhaddits dari al-Albani adalah kesimpulan yang tidak ditunjukkan oleh teksnya — apalagi di kalimat yang sama beliau menyebut al-Albani sebagai yang terbaik dan satu-satunya di zamannya dalam bidang ini.
Syaikh Muqbil menyebut al-Albani “muhaddits” secara literal
Yang menarik, di situs resmi Syaikh Muqbil sendiri terdapat penyebutan eksplisit tersebut.
Sumber: muqbel.net, fatwa no. 57
Teks fatwa di situs resmi Syaikh Muqbil.
Dalam fatwa itu Syaikh Muqbil justru sedang berbeda pendapat dengan Syaikh al-Albani tentang menggerakkan jari telunjuk ketika tasyahud. Namun di tengah kritik ilmiahnya, beliau tetap menulis:
أما التحريك وإن كان الشيخ الألباني حفظه الله تعالى وهو محدث العصر يقول: بالتحريك…
“Adapun perihal menggerakkan jari — meskipun Syaikh al-Albani hafizhahullah ta‘ala, dan beliau adalah muhaddits abad ini, berpendapat bahwa jari digerakkan…”
Penegasan dalam kitab beliau
Hal serupa beliau tegaskan dalam kitab Ijābah as-Sā’il ‘alā Ahamm al-Masā’il (hlm. 449–450).
Sumber: Teks online, muqbel.al3ilm.net
Ijābah as-Sā’il ‘alā Ahamm al-Masā’il, soal-jawab no. 306.
Ketika ditanya tentang hadis-hadis yang menurut beliau al-Albani bersikap tasahul di dalamnya, Syaikh Muqbil menjawab dengan tetap menyebut:
فالأحاديث التي نرى أن الشيخ ناصر الدين الألباني حفظه الله تعالى وهو يعتبر إمام وقته في علم الحديث تساهل فيها…
“Maka hadis-hadis yang kami pandang Syaikh Nashiruddin al-Albani hafizhahullah — dan beliau dianggap sebagai imam pada zamannya dalam ilmu hadis — bersikap longgar di dalamnya…”
Jadi kritik detail tetap beliau sampaikan, tetapi tanpa sedikit pun mencabut status keilmuannya.
Lanjutan pernyataan Syaikh Muqbil pada halaman berikutnya.
Bahkan beliau melanjutkan:
وأما علم الحديث فليس للشيخ ناصر الدين الألباني من يماثله
“Adapun ilmu hadis, maka tidak ada seorang pun yang menyamai Syaikh Nashiruddin al-Albani.”
Kesimpulan
Perkataan Syaikh Muqbil tersebut tidak dapat dijadikan bukti bahwa beliau menafikan status muhaddits dari Syaikh al-Albani, karena tiga alasan:
-
Yang dinafikan secara eksplisit adalah predikat hafizh, bukan muhaddits — dan hafizh adalah tingkatan di atas muhaddits, bukan sinonimnya.
-
Tolok ukur perbandingannya disebut sendiri oleh Syaikh Muqbil: derajat Imam Ahmad dan al-Bukhari. Konteksnya adalah tarjih antara mutaqaddimin dan muta’akhkhirin, dan berlaku untuk ulama muta’akhkhirin secara umum.
-
Dalam kalimat yang sama, beliau justru menyebut al-Albani sebagai orang terbaik di zaman ini dan satu-satunya di bidang ini.
Dan di tempat lain beliau menyebutnya secara harfiah sebagai muhadditsul ‘ashr, imam waqtihi fi ‘ilmil hadits, serta tidak ada yang menyamainya dalam ilmu hadis.
Wallahu a‘lam.